Minggu, 26 September 2010

THE LITLE THING Part-3 MUDIK-SKEPTIS dan PAMER ZAKAT


Adakah optimisme pada sebuah bangsa yang telah mengenyam 65 tahun kemerdekaannya, tetapi tidak pernah beranjak baik dalam pengelolaan negaranya – dalam melayani masyarakat nya.

Esensi dasar Bangsa ini dan penyakit kronis yang menderanya adalah : Mental Aparat, Laten orde baru.

Menyambut idul fitri -  satu satunya bangsa didunia yang teramat sibuk dengan prosesi mudik, dan berulang kali dibarengi dengan aneka musibah, ya Indonesia Raya Tercinta ini. Gunung meletus saat ramadhan di Sumatera Utara – Banjir di Bandung, Kecelakaan darat dan Laut yang tidak pernah usai , berulang dengan catatan yang sama , yaitu kelebihan penumpang, sebagian memiliki karcis , 80% sisanya membayar diatas  - sementara kesibukan di jalur jalur macet arus mudik – ribuan petugas dikerahkan, aneka posko didirikan, diterminal puluhan korban pembiusan tetap berlangsung, calo menaikan karcis resmi – apanya yang dapat dibanggakan ?

Andaikan semua departemen mau menyumbangkan bis antar jemput miliknya – semua kendaraan tentara baik bis dan truknya juga ikut berkiprah dalam bantuan arus mudik – semua pesawat militer yang nganggur juga dikerahkan – semua kapal perang angkatan laut dikerahkan , kayanya rakyat ngga bakal pusing memikirkan ongkos mudik, hal sederhana ini sudah cukup membuat harkat martabat rakyat merasa menjadi warga negara yang diperhatikann pemerintahnya, dibantu kepentingaannya – kita terkadang lupa memikirkan hal yang esensi , tetapi selalu bicara konsep besar . Tetapi juga tidak pernah tuntas dan berhasil menyenangkan hati rakyatnya – pemilik tunggal kedaulatan negeri ini INDONESIA RAYA tercinta.

Disudut lain,hampir semua stasiun televisi menampilkan korban desak desakan pembagian zakat,  tahun lalu sudah tidak terhitung korban jiwa akibat antrian zakat, celakanya, selain beberapa pengusaha kaya ikut pamer PEDULI dengan kemiskinan,  ada juga Bupati melakukan hal yang sama.

Kita semua asik dan seolah olah peduli – seolah olah semua aparat terkait sedang dan merasa  sedang melayani masyarakat - season yang tepat, momentum yang tepat adalah idul fitri untuk memamerkan segala keangkuhan  dan kesombongan. Terus berulang dan berulang tanpa pernah melakukan evaluasi dan perbaikan – korban nyawa dan kesusahan yang dieksplore sedemikain rupa, tanpa perbaikan dan tanpa pembenahan yang berarti.

Hal kecil yang sederhana dan tidak dilakukan dalam pembagian zakat misalnya, kita masih senang pamer seolah peduli , pejabat yang kelebihan harta, pengusaha yang kelebihan rezeki, bupati yang latah   seolah peduli – melakukan hal yang sama , senang dengan antrian ibu dan anak kecil yang terjepit  berdesak-desakan, kakek renta dan nenek yang kehabisan tenaga, tangisan balita – demi uang 15 Ribu Rupiah ,  satpol PP dan Polisi bayaran yang ikut serta menertibkan , juga merasa seolah olah sedang peduli - tentunya dengan honor tertentu dari pejabat yang kelebihan harta, pengusaha yang kelebihan rezeki, bupati yang latah dan ikut  ikutan  seolah sedang membantu dan sedang peduli dengan banyaknya para mudzaki.

Seberapa susahnya sih  pola MENJEMPUT BOLA, meminta data Janda dan anak yatim,ke pihak kelurahan, kecamatan, rt dan rw setempat,  terus petugas honorer – ya Bodyguard, Satpol PP , Hansip, Polisi tadi mendata , mengantar dan membagikannya secara door to door. Mereka para mudzaki duduk manis dan bahagia menerima limpahan rezeki dari pejabat yang kelebihan harta, pengusaha yang kelebihan rezeki dan dari bupati yang latah tadi.

Berapa susahnya sih Pemda –Kanwil Departemen Agama, menghimbau bahkan MELARANG pemberian zakat langsung secara pribadi -  baik dirumah maupun di instansi yang melebihi dari 50 orang – inilah susahnya jika Dewan Kemakmuran Masjid, aparat Desa sudah tidak amanah dan pejabat yang kelebihan harta, pengusaha yang kelebihan rezeki, bupati yang latah - takut tidak terekspose dan tidak masuk berita ketika akan memberikan zakatnya, Masya Allah.
  
REACH FOR THE REAL GREAT INDONESIA
Mulailah dari hal sederhana dan hal yang kecil

Tidak ada komentar: